Pabrik Cokelat di Cikupa Bantah Buang Limbahnya ke Irigasi Pertanian

Banten, Ekonomi, Tangerang206 Dilihat

TANGERANG (JD) – Management PT Federal Food Internusa selaku perusahaan pengelolaan coklat membantah terkait adanya pencemaran, berupa limbah hasil produksinya ke saluran irigasi pertanian di lingkungannya tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh Staf General Affairs Saeful melalui pesan aplikasi Whatsapp yang diterima Jurnal Daily pada Selasa (31/10/2023).

“Menurut kami tidak semua berita yang beredar itu benar,” singkatnya.

Menurut dia, adanya aduan dari masyarakat terkait pencemaran lingkungan dengan berdampak pada lahan pertanian yang dilakukan perusahaannya itu tidak sesuai fakta kondisi di lapangan.

“Kami berharap berita yang beredar bisa berimbang dan tidak menjadi berita yang liar dan tidak relevan dengan kondisi di lapangan (tidak ada limbah),” katanya.

Kendati demikian, dalam klarifikasi yang disampaikan melalui perwakilan perusahaan pengelola cokelat yang diketahui sudah beroperasi sejak 20 tahun tersebut pun tidak merincikan bantahannya secara jelas.

“Untuk itu dalam waktu dekat InsaAllah akan mengklarifikasi melalui salah satu media online,” tutur dia.

Sebelumnya, petani di Desa Talagasari, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten mengeluhkan tingginya tingkat kontaminasi limbah pabrik coklat milik PT Federal Food Internusa yang berdampak terhadap hasil panen pertanian di wilayah setempat.

“Soal pencemaran air limbah coklat ini memang sudah lama terjadi. Dan ini sudah kita keluhkan ke perusahaan, tapi tidak ada tanggapan. Selama ini saya terpaksa juga memanfaatkan air limbah ini karena di musim kemarau sudah tidak ada sumber air lagi yang bisa dimanfaatkan,” ucap salah satu petani sayur, M Rohman (50).

Dugaan pencemaran limbah coklat terhadap aliran irigasi pertanian itu sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu, karena pada lima tahun lalu dirinya pun sudah merasakan dampak dari pencemaran limbah pabrik tersebut.

Kendati, atas adanya pencemaran limbah yang langsung berdampak pada lahan pertanian itu, juga mengakibatkan pencemaran air galian warga yang berada di dekat aliran sungai setempat.

Hasil pantauan di lokasi pabrik pengelolaan coklat itu, terlihat aliran irigasi di sekitarnya dipenuhi busa dengan berwarna hitam pekat. Bahkan, dari limbah tersebut mengandung bau tak sedap hingga mengganggu pernafasan.

Kemudian, saat mencoba mengelilingi sekitar bangunan pabrik, terlihat juga adanya kandungan seperti minyak yang mengakibatkan rumput dan tumbuhan di sekitar irigasi mati.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *