Peserta HPN 2026 SMSI Telusuri Jejak Multatuli di Museum Lebak

Banten47 Dilihat

LEBAK, (JD) – Rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang diselenggarakan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) berlanjut dengan agenda literasi sejarah melalui kunjungan ke Museum Multatuli, Kabupaten Lebak, Banten. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi bagi insan pers terhadap nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan keberpihakan pada kebenaran.

Ratusan peserta dari berbagai daerah hadir dalam kunjungan tersebut. Rombongan dipimpin Sekretaris Jenderal SMSI Pusat, Makali Kumar, didampingi Dewan Penasehat SMSI Pusat Moh. Nasir serta Ketua SMSI Provinsi Banten, Lesman Bangun. Kedatangan mereka disambut perwakilan Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Diskominfo, Sehabudin.

Dalam sambutannya, Makali Kumar menegaskan bahwa kunjungan ke Museum Multatuli merupakan bagian dari agenda edukatif HPN 2026 untuk memperkaya perspektif sejarah para jurnalis.

“Lebak sarat dengan nilai perjuangan lewat pena yang dilakukan Multatuli. Ia melawan monopoli, kapitalisasi, dan penindasan melalui karya sastranya,” ujar Makali.

Ia menjelaskan, Multatuli merupakan nama pena Eduard Douwes Dekker, pejabat Belanda yang pernah menjabat sebagai Asisten Residen Lebak pada 1856. Douwes Dekker memilih mundur dari jabatannya karena tidak tahan menyaksikan praktik penindasan terhadap rakyat pribumi. Pengalaman itu kemudian dituangkan dalam karya monumental Max Havelaar yang ditulis pada 1860 di Belgia dan mengguncang opini publik internasional.

“Meski bukan orang Indonesia, Multatuli berani menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan. Semangat itu relevan dengan pers hari ini membangun pers sehat, ekonomi berdaulat, dan bangsa yang kuat sesuai tema besar HPN 2026,” tambahnya.

Sebelum memasuki museum, peserta juga menerima pemaparan mengenai sejarah, visi, dan perjalanan SMSI sebagai organisasi media siber terbesar di Indonesia.

Di dalam museum, peserta menelusuri ruang-ruang pamer yang menampilkan arsip kolonial, ilustrasi sejarah, hingga diorama sosial-politik masa penjajahan. Penjelasan dipandu langsung Kepala Subbagian Tata Usaha Museum Multatuli, Lia Havila, yang menguraikan perjalanan hidup serta gagasan kritis sang penulis.

Menurut Lia, Max Havelaar membuka mata dunia terhadap praktik ketidakadilan sistem tanam paksa di Hindia Belanda dan menjadi simbol perlawanan moral terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang.

“Nilai-nilai yang diperjuangkan Multatuli sangat relevan dengan semangat pers saat ini, yakni menyuarakan kebenaran, membela kemanusiaan, dan mengkritisi ketidakadilan,” ujarnya.

Setiap artefak dan dokumentasi yang dipamerkan menjadi pengingat akan pentingnya keberanian moral dalam menghadapi ketimpangan. Para peserta tampak antusias menyimak paparan dan merefleksikan peran pers sebagai instrumen kontrol sosial.

Kunjungan ke Museum Multatuli menjadi salah satu agenda strategis dalam HPN 2026 SMSI. Selain memperkaya wawasan sejarah, kegiatan ini diharapkan memperteguh komitmen insan pers untuk menjalankan tugas jurnalistik secara kritis, berimbang, dan bertanggung jawab demi kepentingan publik.