Rihlah Ilmiah Santri Qurrotu Nafsin ke Istana Negara, Perpusnas, Monas, dan Istiqlal Berlangsung Penuh Kesan

Jakarta38 Dilihat

Jakarta, (JD) – Sebanyak 300 santri dan pembimbing dari Pondok Pesantren Dakwah dan Tahfidz Qurrotu Nafsin melaksanakan kegiatan Rihlah Ilmiah ke sejumlah destinasi edukatif dan bersejarah di Jakarta pada Kamis (25/6/2026). Kegiatan ini menjadi momen penyegaran sekaligus sarana pembelajaran setelah para santri menyelesaikan rangkaian ujian lisan dan ujian tulis yang berlangsung selama hampir tiga pekan. Kamis, 25/6/26.

Sejak selepas Subuh, para santri dengan penuh semangat berjalan menuju Birumsa, lokasi keberangkatan bus yang akan membawa mereka ke berbagai tujuan rihlah.

Adapun lokasi yang dikunjungi meliputi Istana Negara, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Monumen Nasional (Monas), dan Masjid Istiqlal.

Kunjungan pertama dilakukan ke kawasan Istana Kepresidenan Jakarta. Setibanya di lokasi, para santri tampak antusias dan kagum melihat berbagai fasilitas serta mendapatkan penjelasan mengenai sejarah dan fungsi bangunan-bangunan penting di lingkungan istana.

Rangkaian kegiatan diawali di salah satu ruang pertemuan bersejarah di lingkungan istana. Para peserta mendapatkan penjelasan mengenai tokoh yang namanya diabadikan sebagai nama gedung tersebut karena jasa dan integritasnya dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.

Selanjutnya, rombongan diarahkan menuju Istana Merdeka. Dengan pengamanan yang ketat namun tetap ramah, para santri dapat menyaksikan secara langsung berbagai ruangan bersejarah yang selama ini hanya mereka lihat melalui televisi dan media.

Penjelasan mengenai tata kelola serta fungsi berbagai ruangan di Istana Negara, termasuk ruangan yang digunakan untuk pelantikan para menteri dan kegiatan kenegaraan lainnya, menambah wawasan para peserta.

Momen yang paling berkesan terjadi menjelang sesi foto bersama di akhir kunjungan. Suasana mendadak riuh ketika para santri melihat kehadiran Mayor Teddy Indra Wijaya.

Dengan senyum ramah dan sikap yang bersahaja, Mayor Teddy menyapa para santri yang langsung membalas dengan antusias. Kehadiran ajudan Presiden tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan menambah kesan mendalam bagi seluruh peserta.

Sekitar pukul 11.39 WIB, rangkaian kunjungan di Istana Negara berakhir. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ratusan santri tampak memadati eskalator dan berbagai lantai perpustakaan untuk menikmati koleksi buku serta fasilitas literasi yang tersedia.

Suasana pembelajaran semakin sempurna ketika para santri juga berkesempatan mengunjungi museum yang berada di kawasan depan Perpusnas. Di tempat tersebut, mereka diajak menelusuri sejarah panjang peradaban manusia dalam menyimpan dan menyebarkan ilmu pengetahuan.

Para santri memperoleh penjelasan mengenai perkembangan media tulis dari masa ke masa, mulai dari ukiran pada batu, tulisan pada daun lontar dan kulit hewan, naskah kuno yang ditulis tangan, hingga ditemukannya mesin cetak dan lahirnya buku-buku modern yang kini mudah diakses oleh masyarakat.

Perjalanan sejarah tersebut memberikan pemahaman bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang dinikmati saat ini merupakan hasil proses panjang yang dilalui oleh generasi-generasi terdahulu.

Kegiatan di Perpusnas dan museum berlangsung hingga pukul 16.00 WIB. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Monumen Nasional (Monas). Meskipun hujan mengguyur kawasan

Monas pada sore hari, semangat para santri tidak sedikit pun surut. Dengan penuh antusias mereka tetap menikmati suasana dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan. Hujan yang turun justru menjadi bagian dari pengalaman berharga yang menambah kesan tersendiri dalam perjalanan mereka.

Para santri terus bertahan hingga menjelang waktu penutupan kawasan Monas. Saat pintu kawasan mulai ditutup oleh petugas, rombongan bersiap melanjutkan perjalanan menuju destinasi terakhir, yakni Masjid Istiqlal. Semangat yang tetap terjaga sejak pagi menjadi bukti antusiasme para santri dalam mengikuti Rihlah Ilmiah tersebut.

Di sela-sela kunjungan, suasana haru dan bahagia juga tampak ketika beberapa santri yang berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya mendapat kunjungan dari orang tua atau wali santri mereka.

Kesempatan bertemu di tengah kegiatan rihlah menjadi momen yang sangat berharga bagi para santri yang selama ini tinggal di pesantren. Canda, tawa, dan obrolan singkat bersama keluarga menambah kebahagiaan di tengah padatnya rangkaian kegiatan.

Kunjungan ke Masjid Istiqlal menjadi penutup yang sempurna bagi perjalanan edukatif tersebut. Selain menikmati kemegahan masjid terbesar di Asia Tenggara, para santri juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah serta peran Masjid Istiqlal sebagai simbol persatuan dan kebanggaan umat Islam Indonesia.

Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Dakwah dan Tahfidz Qurrotu Nafsin berharap para santri tidak hanya memperoleh pengalaman rekreatif, tetapi juga menambah wawasan kebangsaan, memperkuat budaya literasi, serta meningkatkan kecintaan terhadap sejarah, ilmu pengetahuan, dan simbol-simbol negara Indonesia.

Rihlah Ilmiah ini menjadi bukti bahwa belajar tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang mampu membuka cakrawala berpikir dan memperkaya pengetahuan para santri.