Pemprov Banten dan Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 Gagas Pendidikan Vokasi Terintegrasi Industri

Banten81 Dilihat

SERANG, (JD) – Gubernur Banten Andra Soni bersama Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 menggagas penguatan pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan dunia industri melalui konsep link and match antara pendidikan dan dunia kerja. Program ini diarahkan untuk mencetak lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang siap kerja sekaligus menjawab kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor industri.

Sebagai langkah awal, dua SMK akan dijadikan proyek percontohan (pilot project) di kawasan industri, masing-masing di Kawasan Industri Modern Cikande, Kabupaten Serang, dan Kawasan Industri Sawah Luhur, Kota Serang. Saat ini, Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 tengah melakukan studi kelayakan (feasibility study) di dua lokasi tersebut dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari kondisi geografis, jumlah penduduk usia sekolah, keberadaan SMK sekitar, hingga pertumbuhan ekonomi wilayah.

Gubernur Banten Andra Soni menegaskan komitmennya untuk mewujudkan pendidikan vokasi yang benar-benar selaras dengan kebutuhan industri. Menurutnya, penguatan pendidikan vokasi menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan kualitas SDM sekaligus menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Banten.

“Bagaimana lulusan SMK itu harus benar-benar siap kerja,” ujar Andra Soni saat menerima jajaran Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Banten di Gedung Negara, Kota Serang, Kamis (14/5/2026).

Ia menambahkan, dengan posisi geografis Banten yang strategis serta keberadaan sekitar 8.924 industri dari skala kecil hingga besar, potensi penyerapan tenaga kerja dari lulusan SMK dinilai sangat besar apabila didukung sistem pendidikan vokasi yang tepat.

Sementara itu, Ketua Yayasan SMK Mitra Industri MM2100 Darwoto menyatakan kesiapan pihaknya untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Banten dalam membangun ekosistem pendidikan vokasi berbasis industri. Ia menekankan pentingnya pendidikan karakter dan pelatihan berbasis industri sebagai fondasi utama dalam menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan kerja.

“Program unggulan kami adalah pendidikan karakter yang dipadukan dengan pelatihan berbasis industri. Kami siap berkolaborasi untuk menyiapkan SDM unggul,” ujarnya.

Darwoto menjelaskan, pemilihan lokasi pilot project mempertimbangkan tingkat kompetisi pendidikan, jumlah lulusan, serta kesesuaian jurusan SMK dengan kebutuhan industri setempat. Ia menilai sejumlah SMK di sekitar kawasan industri masih didominasi jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), sementara kebutuhan industri lebih banyak pada sektor manufaktur dan teknik.

Menurutnya, jurusan yang perlu diperkuat antara lain manajemen logistik, teknik pengelasan, mekatronika, dan permesinan, yang sesuai dengan kebutuhan industri di kawasan tersebut.

Dari sisi skema kerja sama, Yayasan SMK Mitra Industri menawarkan dua model, yakni partnership dan kolaborasi sebagaimana diatur dalam regulasi pendidikan. Model tersebut telah diterapkan di sejumlah daerah dengan pendekatan berbeda sesuai kebutuhan, baik dalam pengelolaan penuh oleh yayasan maupun kerja sama kurikulum dan supervisi dengan pemerintah daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten Jamaludin menyebutkan bahwa penguatan vokasi menjadi bagian dari upaya penyelesaian sejumlah persoalan pendidikan, termasuk penurunan angka putus sekolah dan tingginya TPT yang masih banyak disumbang oleh lulusan SMK.

Ia menegaskan pentingnya penyesuaian jurusan SMK dengan kebutuhan industri agar lulusan benar-benar siap memasuki dunia kerja.

“Dengan adanya kolaborasi ini, kami optimis berbagai tantangan pendidikan vokasi dapat diatasi secara bertahap,” kata Jamaludin.