Piala Bupati Tangerang Cup Dikecam Setelah Terjadinya Patah Tulang Pemain Secara Berturut-turut

Banten65 Dilihat

Tangerang – Kasus cedera serius yang terjadi dalam ajang Piala Bupati Tangerang 2026 kembali menjadi sorotan. Setelah sebelumnya terungkap seorang pemain SSB Bintang Kelapa Dua mengalami patah tulang tangan, kini muncul fakta bahwa korban lain yang mengalami patah tulang kaki juga diduga mengalami insiden saat berhadapan dengan tim yang sama, yakni FIFA Farmel Academy.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, dua pemain dari tim berbeda mengalami cedera berat hingga patah tulang dalam pertandingan terpisah selama turnamen berlangsung.

Korban pertama, Muhammad Alfidzar, pemain SSB Bintang Kelapa Dua, mengalami patah tulang tangan usai terlibat benturan keras dalam pertandingan melawan FIFA Farmel Academy pada 23 Mei 2026. Insiden tersebut bahkan sempat memicu protes dari pihak tim dan penonton hingga wasit akhirnya mengeluarkan kartu merah kepada pemain yang dianggap melakukan pelanggaran.

Sementara itu, korban kedua merupakan pemain dari BMS Tigaraksa yang mengalami patah tulang pada bagian kaki saat pertandingan babak 16 besar di Stadion Mini Cisauk, Minggu (31/5/2026). Berdasarkan informasi yang diperoleh, insiden tersebut juga terjadi saat menghadapi FIFA Farmel Academy.

Fakta bahwa dua cedera berat terjadi dalam pertandingan yang melibatkan tim yang sama memunculkan berbagai pertanyaan dari kalangan pelatih, orang tua pemain, hingga pemerhati sepak bola usia dini. Mereka meminta penyelenggara melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jalannya kompetisi, termasuk pengawasan pertandingan, penerapan fair play, dan ketegasan wasit terhadap pelanggaran yang berpotensi membahayakan keselamatan pemain.

Asisten Pelatih SSB Bintang Kelapa Dua, Cevi, sebelumnya menegaskan bahwa kompetisi usia dini seharusnya menjadi sarana pembinaan karakter dan sportivitas, bukan semata-mata mengejar kemenangan.

“Jangan hanya mengejar kemenangan semata, tetapi lebih mengedepankan pembinaan yang baik, attitude, dan respect terhadap lawan. Bermain keras boleh, tetapi jangan sampai bermain kasar yang membahayakan pemain lain,” ujarnya.

Sejumlah pihak juga meminta panitia penyelenggara untuk melakukan investigasi dan evaluasi terhadap dua insiden tersebut guna memastikan apakah terdapat kelalaian dalam pengawasan pertandingan atau pola permainan yang berpotensi membahayakan pemain.

Mengingat seluruh peserta merupakan atlet usia dini yang masih dalam tahap pertumbuhan dan pembinaan, aspek keselamatan dinilai harus menjadi prioritas utama dalam setiap pertandingan.

Hingga berita ini diterbitkan, panitia pelaksana maupun pihak FIFA Farmel Academy belum memberikan keterangan resmi terkait dua insiden patah tulang yang terjadi selama turnamen berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *