Sosialisasi Empat Pilar di Tangerang, Rano Alfath Dorong PKB Jadi Penguat Persatuan

Banten32 Dilihat

TANGERANG,(JD) – Wakil Ketua Komisi III DPR RI sekaligus Anggota MPR RI Fraksi PKB, Moh. Rano Alfath, S.H., M.H., menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kantor Sekretariat DPC PKB Kabupaten Tangerang, Kadu Agung, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten. Kegiatan yang dihadiri kader PKB dan tokoh masyarakat tersebut menekankan pentingnya menjaga persatuan, memperkuat toleransi, serta membangun kepedulian sosial di tengah derasnya arus informasi digital. Selasa, 15/9/26.

Melalui tiga pokok pembahasan, yakni menjaga persatuan dan toleransi di era digital, melindungi keluarga dari judi online dan penipuan digital, serta memperkuat gotong royong untuk kesejahteraan masyarakat desa, Rano mengajak peserta menghubungkan nilai-nilai kebangsaan dengan persoalan yang dihadapi warga sehari-hari.

Rano menegaskan bahwa Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan pedoman bersama dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun, demokratis, dan berkeadilan. Menurutnya, pengamalan nilai-nilai tersebut semakin diperlukan ketika ruang publik dipenuhi pemberitaan negatif, perdebatan tajam, serta informasi yang kerap beredar tanpa konteks yang utuh.

“Kita hidup dalam situasi ketika kabar buruk, kemarahan, dan pertentangan begitu mudah sampai ke tangan masyarakat melalui ponsel. Persoalan yang nyata tentu harus diberitakan dan dikritisi, karena masyarakat berhak mengetahui keadaan serta menuntut perbaikan. Tetapi kita juga perlu memastikan bahwa cara kita merespons persoalan tidak justru memperbesar kebencian, menghilangkan empati, atau membuat kita saling mencurigai. Di sinilah nilai-nilai Empat Pilar menjadi pegangan agar kita tetap jernih melihat masalah dan tetap menjaga persaudaraan,” ujar Rano.

Menurutnya, kemampuan membedakan fakta, pendapat, dan provokasi merupakan bagian penting dari tanggung jawab warga di era digital. Ia mengingatkan bahwa informasi yang belum terverifikasi dapat menimbulkan dampak nyata terhadap hubungan antartetangga, antarkelompok, maupun antarumat beragama.

“Jangan sampai satu potongan video atau satu pesan berantai membuat kita memberi penilaian buruk kepada seluruh kelompok masyarakat. Periksa informasinya, pahami konteksnya, dan pikirkan akibatnya sebelum membagikan. Sikap kritis harus tetap berjalan bersama penghormatan terhadap martabat manusia. Kita boleh berbeda pendapat dengan tegas, tetapi tidak boleh kehilangan rasa hormat kepada sesama warga negara,” lanjutnya.

Rano yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP PKB menekankan bahwa partai politik memiliki tanggung jawab dalam menjaga kualitas kehidupan demokrasi. Tanggung jawab tersebut mencakup pendidikan politik, penyaluran aspirasi, serta upaya mempertemukan kepentingan masyarakat yang beragam melalui dialog.

Ia menilai bahwa sikap dan cara berkomunikasi para kader turut memengaruhi suasana di tengah masyarakat. Karena itu, kader perlu menjaga ucapan, menghormati perbedaan, dan menghindari penyebaran informasi yang dapat memperuncing ketegangan.

“Partai politik memiliki pengaruh, jaringan, dan kedekatan dengan masyarakat. Semua itu harus digunakan untuk memperkuat persatuan. Kader harus mampu menjelaskan persoalan secara bertanggung jawab, membuka ruang dialog, dan membantu warga menemukan jalan keluar. Ketika muncul ketegangan, kehadiran partai seharusnya membuat keadaan lebih tenang dan komunikasi kembali terbuka. Kepentingan politik harus selalu ditempatkan dalam tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga keutuhan kehidupan bersama,” tegasnya.

Rano menekankan bahwa komitmen PKB terhadap kemajemukan perlu diwujudkan melalui perilaku kader dalam keseharian. Pelayanan dan pendampingan kepada masyarakat, menurutnya, harus menjangkau warga tanpa membedakan agama, suku, latar belakang sosial, maupun pilihan politik.

“Bagi PKB, persatuan dan toleransi harus terlihat dalam cara kita memperlakukan masyarakat. Ketika ada warga membutuhkan bantuan, yang pertama kita lihat adalah kebutuhannya, bukan pilihan politiknya. Ketika ada kelompok yang mengalami perlakuan tidak adil, kita harus mau mendengar dan memperjuangkan penyelesaian yang adil. Sikap seperti inilah yang membangun kepercayaan, karena masyarakat merasakan bahwa keberadaan partai membawa rasa aman dan menghargai kedudukan mereka sebagai sesama warga negara,” katanya.

Lebih lanjut, Rano menyampaikan bahwa manfaat keberadaan PKB perlu diukur dari kemampuan kader dan wakil rakyatnya dalam menyerap aspirasi serta memperjuangkan penyelesaian persoalan masyarakat. Ia mendorong jajaran partai untuk memperkuat fungsi pelayanan, pendampingan, dan pengawasan sesuai kewenangan masing-masing.

Peran tersebut dapat diwujudkan melalui pendampingan warga dalam mengakses layanan publik, memperjuangkan kebutuhan pendidikan dan kesehatan, mendukung pengembangan usaha masyarakat, serta membawa persoalan di tingkat lingkungan ke dalam pembahasan kebijakan.

“Manfaat PKB harus dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Warga yang kesulitan mengakses layanan perlu dibantu memahami prosedur dan dipertemukan dengan pihak yang berwenang. Pelaku usaha kecil perlu didengar kendalanya agar kebijakan yang kita perjuangkan sesuai kebutuhan mereka. Aspirasi mengenai pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan keamanan lingkungan harus kita kawal tindak lanjutnya. Dengan begitu, hubungan partai dengan masyarakat tumbuh melalui kerja yang berkelanjutan dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Rano.

Ia juga mendorong agar sekretariat partai menjadi ruang yang terbuka bagi aspirasi dan dialog masyarakat. Menurutnya, keterbukaan tersebut penting untuk memastikan kerja politik tetap berangkat dari keadaan yang benar-benar dialami warga.

“Saya ingin kader membangun kebiasaan mendengar sampai tuntas. Jangan terburu-buru menjanjikan sesuatu yang berada di luar kewenangan kita. Jelaskan apa yang bisa diperjuangkan, bantu menghubungkan dengan instansi terkait, lalu pantau perkembangannya. Masyarakat membutuhkan kesungguhan dan kejelasan. Dari kerja seperti itulah kita menunjukkan bahwa politik memiliki manfaat yang nyata,” tambahnya.

Sejalan dengan tanggung jawab tersebut, Rano mengingatkan pentingnya perlindungan keluarga dari judi online dan berbagai modus penipuan digital. Ia mengajak kader serta tokoh masyarakat ikut membangun kewaspadaan melalui edukasi yang mudah dipahami dan komunikasi yang tidak menghakimi korban.

“Ancaman digital bisa masuk melalui tawaran keuntungan cepat, tautan palsu, atau ajakan yang terlihat biasa. Dampaknya dapat menguras tabungan dan mengganggu hubungan dalam keluarga. Karena itu, kita perlu membiasakan komunikasi yang terbuka di rumah, menjaga data pribadi, serta berani mencari pertolongan ketika menghadapi masalah. Kader dan tokoh masyarakat juga perlu membantu warga menemukan saluran pengaduan yang tepat agar mereka tidak merasa harus menghadapi persoalannya sendirian,” ujarnya.

Rano menambahkan bahwa kepedulian tersebut merupakan bagian dari pengamalan gotong royong. Semangat saling membantu perlu diperluas menjadi partisipasi warga dalam musyawarah, dukungan terhadap usaha lokal, serta pengawasan terhadap pelaksanaan program pembangunan dan kesejahteraan.

“Gotong royong tumbuh ketika kita bersedia melihat kesulitan orang lain sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama. Bentuknya bisa dengan mendukung usaha tetangga, membantu warga mengakses pelayanan, atau menyampaikan masukan agar program berjalan lebih tepat sasaran. Partisipasi seperti ini membuat pembangunan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan,” tuturnya.

Menutup kegiatan, Rano mengajak kader PKB dan tokoh masyarakat menjadikan nilai-nilai Empat Pilar sebagai dasar dalam membangun hubungan sosial maupun menjalankan tanggung jawab pelayanan kepada warga.

“Di tengah banyaknya kabar yang membuat masyarakat cemas, kita perlu menghadirkan kerja yang memberi harapan: pelayanan yang responsif, ruang dialog yang terbuka, dan kepedulian yang konsisten. Itulah tanggung jawab yang harus kita jalankan bersama. Ketika warga merasa didengar, diperlakukan dengan adil, dan dibantu menghadapi kesulitannya, kepercayaan akan tumbuh dan persatuan akan semakin kuat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan