Fenomena “Dascomology” Dinilai Cerminkan Pentingnya Komunikasi Politik dalam Menjaga Kepercayaan Publik

Politik47 Dilihat

JAKARTA, (JD) – Munculnya istilah “Dascomology” yang ramai diperbincangkan di media sosial dinilai menjadi fenomena politik yang menarik dalam dinamika demokrasi Indonesia. Istilah tersebut berkembang seiring persepsi sebagian publik yang mengaitkan komunikasi politik Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, dengan menguatnya sentimen positif di pasar, termasuk pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sejumlah momentum.

Koordinator Publik Peduli Demokrasi, Gunawan Raharjo, mengatakan bahwa terlepas dari benar atau tidaknya persepsi tersebut, fenomena ini menunjukkan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap peran komunikasi politik dalam menjaga stabilitas nasional.

“Yang menarik adalah munculnya kepercayaan publik terhadap pentingnya komunikasi politik dalam menciptakan kepastian di tengah dinamika politik dan ekonomi. Masyarakat kini tidak hanya menilai kebijakan pemerintah, tetapi juga memperhatikan siapa yang mampu menghadirkan rasa optimisme melalui komunikasi yang efektif,” ujar Gunawan.

Menurutnya, dalam sistem demokrasi modern, pergerakan pasar keuangan tidak semata-mata dipengaruhi indikator ekonomi makro, tetapi juga ekspektasi pelaku pasar, psikologi investor, serta tingkat kepercayaan terhadap institusi negara. Oleh karena itu, komunikasi publik yang cepat, jelas, dan kredibel dinilai mampu membantu membangun optimisme sekaligus meredam spekulasi yang berpotensi mengganggu stabilitas.

Gunawan menjelaskan, fenomena “Dascomology” merupakan refleksi dari berkembangnya budaya politik digital. Narasi tersebut muncul secara organik setelah masyarakat berulang kali menyaksikan komunikasi politik Sufmi Dasco Ahmad pada berbagai momentum penting yang beriringan dengan membaiknya sentimen pasar.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pergerakan IHSG tidak dapat disederhanakan hanya dipengaruhi oleh satu figur atau satu faktor. Menurutnya, persepsi yang berkembang justru memperlihatkan bahwa komunikasi politik memiliki nilai strategis dalam membangun kepercayaan publik.

Lebih lanjut, Gunawan menilai pejabat publik tidak hanya memiliki tanggung jawab menjalankan fungsi konstitusional, tetapi juga memastikan kualitas komunikasi kepada masyarakat. Kepastian informasi, kata dia, menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat legitimasi demokrasi, menjaga optimisme publik, sekaligus menciptakan iklim investasi yang kondusif.

“Demokrasi yang sehat membutuhkan pemimpin yang mampu membangun kepercayaan. Ketika komunikasi dilakukan secara terbuka, tepat waktu, dan bertanggung jawab, ruang spekulasi dapat dipersempit, kepercayaan publik meningkat, dan sentimen positif terhadap perekonomian ikut terjaga,” ujarnya.

Publik Peduli Demokrasi memandang fenomena “Dascomology” bukan sekadar candaan yang berkembang di media sosial, melainkan cerminan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kualitas komunikasi para pemimpin negara. Fenomena tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik merupakan modal penting dalam menjaga stabilitas demokrasi dan perekonomian nasional.

Tinggalkan Balasan